Logo DHIS Primary Buah Batu Darul Hikam

Sekolah Islam Bandung, Primary School di Kota bandung Bandung, Darul Hikam, DHIS Primary Buah Batu


Melatih Anak Bersabar dan Mengendalikan Diri dalam Kehidupan Sehari-hari
Published: 19 April 2026 22:07

 

 

“Kesabaran bukanlah kemampuan untuk tidak merasa kesal, tetapi kemampuan untuk tetap tenang saat menghadapi hal yang tidak sesuai harapan. Sejak kecil, anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan dapat segera terpenuhi, dan tidak semua situasi berjalan sesuai dengan yang ia inginkan”.

 

 

Melatih anak bersabar adalah bagian penting dari membentuk karakter dan kematangan emosinya. Anak yang terbiasa belajar menunggu, menahan diri, dan berpikir sebelum bertindak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana. 

 

Mengapa Kesabaran Perlu Diajarkan Sejak Dini?

Di usia dini, anak secara alami ingin segala sesuatu terjadi dengan cepat. Ia belum memahami konsep menunggu, berbagi, atau menerima penolakan. Jika tidak dibimbing, anak bisa mudah frustrasi, marah, atau menyerah.

Melatih kesabaran membantu anak:

  • Mengendalikan impuls
  • Mengurangi ledakan emosi
  • Belajar menyelesaikan masalah
  • Menguatkan daya tahan mental (resilience)

Kesabaran adalah fondasi dari pengendalian diri.

Tanda Anak Perlu Dilatih Mengendalikan Diri

Beberapa tanda yang bisa diperhatikan:

  • Tidak mau menunggu giliran
  • Mudah menangis saat keinginannya tidak terpenuhi
  • Cepat menyerah saat kesulitan
  • Bereaksi berlebihan saat kecewa

Ini bukan tanda anak lemah, tetapi tanda bahwa ia masih belajar.

Þ Cara Melatih Kesabaran Anak dalam Kehidupan Sehari-hari

1.      Ajarkan Konsep “Menunggu Sebentar”

Mulailah dari hal kecil, seperti:

  • Menunggu giliran berbicara
  • Menunggu makanan siap
  • Menunggu mainan dipinjam teman

Gunakan kalimat lembut:

“Kita tunggu sebentar ya, nanti juga dapat giliran.”

2.      Beri Contoh Nyata

Anak belajar dari teladan.
Jika orang tua mudah marah atau tergesa-gesa, anak akan meniru.

Tunjukkan sikap seperti:

  • Menarik napas saat kesal
  • Tidak langsung bereaksi
  • Mengucapkan “tidak apa-apa, kita coba lagi”

3.      Ajarkan Teknik Menenangkan Diri

Latih anak:

  • Tarik napas dalam
  • Menghitung 1–5
  • Duduk sebentar sebelum berbicara

Teknik sederhana ini membantu anak mengenali jeda sebelum bereaksi.

4.      Hargai Usaha, Bukan Hanya Hasil

Ketika anak berhasil menunggu atau tidak langsung marah, apresiasi:

“Ibu bangga kamu bisa menunggu dengan sabar.”

Penguatan positif membuat anak ingin mengulang perilaku baik tersebut.

Dalam Islam, kesabaran adalah akhlak mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Mengajarkan anak untuk bersabar berarti menanamkan nilai keimanan dan keteguhan hati sejak dini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi sumber kekuatan dalam menghadapi kehidupan.

Kesabaran adalah tanda kekuatan iman dan kedewasaan jiwa.

Melatih kesabaran pada anak bukan proses instan. Dibutuhkan keteladanan, konsistensi, dan doa. Namun setiap langkah kecil dari mengajarkan menunggu hingga membantu anak menenangkan diri adalah investasi besar bagi masa depannya.

Mari kita dampingi anak belajar sabar hari ini, agar kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tenang, dan berakhlak mulia.